Tuesday, February 4, 2014

Dahlan: Pemimpin BUMN Perlu Ditekan Untuk Maju


Dahlan: Pemimpin BUMN Perlu Ditekan Untuk MajuJakarta (Antara) - Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan para pemimpin perusahaan milik negara harus sering diberi tekanan agar mampu membawa perubahan yang lebih positif sekaligus dapat memajukan korporasi.
"Terkadang perlu ada `pressure` (tekanan) kepada para pemimpin BUMN, terutama ketika dalam pengambilan keputusan strategis," kata Dahlan, saat memberikan sambutan pada peluncuran buku "Road to Semen Indonesia" tulisan Dirut Semen Indonesia, Dwi Sutjipto, di Jakarta, Selasa malam.
Hadir dalam acara tersebut, antara lain mantan Menteri BUMN Sugiharto, Kepala BKPM Mahendra Siregar, CEO Bukit Asam Transpacific Railway Rudiantara, CEO Thang Long Cement Vietnam Johan Samudra.
Menurut Dahlan, perlunya tekanan kepada para pemimpin BUMN sudah terbukti ketika Semen Indonesia berhasil melakukan ekspansi usaha ke Vietnam.
"Ekspansi Semen Indonesia ke Vietnam sejalan dengan pengubahan nama Semen Gresik menjadi Semen Indonesia. Dengan nama itu pula, Semen Indonesia percaya diri dan berhasil mengembangkan sayapnya di Vietnam," ujar Dahlan.
Ia juga menambahkan, bahwa di bawah kepemimpinan Dwi Sutjipto Semen Indonesia berhasil melakukan transformasi mulai dari kemampuan mengatasi konflik di perusahaan, menyatukan berbagai perbedaan hingga menciptakan sinergi yang kuat pada perusahaan.
"Intinya, pemimpin perlu ditekan karena terkadang romantisme di perusahaan lama membuat orang ragu mengambil keputusan," tegas Dahlan.
Mantan Dirut PT PLN ini pun mengaku dirinya juga masuk dalam orang yang sulit mengambil keputusan.
"Termasuk saya, juga rasanya perlu mendapat tekanan dalam menentukan apakah melakukan sesuatu atau tidak," ujarnya.
Meskipun begitu, Dahlan berpesan agar tekanan kepada petinggi BUMN ditujukan kepada pengambilan keputusan yang positif bagi perusahaan, sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar.
Pada bagian akhir sambutannya, Dahlan menyebutkan bahwa apa yang telah dilakukan Dwi Sutjipto membawa Semen Indonesia ke tingkat global, dapat menjadi inspirasi para Dirut BUMN lainnya untuk kerja keras membangkitkan perusahaan tidak saja di dalam negeri tetapi juga terbukti besar di level internasional.
Menurut catatan, Dwi Sutjipto menjabat Dirut Semen Indonesia sejak tahun 2005 ketika nama perusahaan masih Semen Gresik.
Dari sisi kinerja, Semen Indonesia terus mengalami peningkatan tercermin dari laba bersih Rp4,85 triliun pada 2012, melonjak sembilan kali lipat dari tahun 2004 sebesar Rp509 miliar.
Saat yang bersamaan di bawah kepemimpinan pria kelahiran Surabaya, 10 November 1955 ini pendapatan Semen Indonesia menembus Rp19,6 triliun pada 2012, naik signifikan dari pendapatan pada tahun 2004 sebesar Rp6,07 triliun.(ar)

Friday, January 17, 2014

Dahlan Perkirakan Harga Saham PGN Justru Menguat

Jakarta (Antara) - Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan tidak terlalu yakin harga saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menurun di pasar modal terkait dengan rencana akuisisi PT Pertamina (Persero) atas perusahaan gas tersebut.
"Saya rasa justru memandang rencana aksi korporasi itu bakal membuat saham PGN menguat," kata Dahlan, usai acara penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Badan Pemeriksa Keuangan soal pelaporan informasi dii Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat.
Menurut Dahlan, tentu pemikiran para pelaku pasar modal tidak seperti yang dibayangkan masyarakat pada umumnya.
"Pasar modal memang karakteristiknya demikian, harga selalu naik ataupun turun. Tapi orang pasar modal itu selalu memiliki harapan baru bahwa saham terus menguat," ujarnya.
Dengan begitu kata mantan Dirut PT PLN ini, dirinya tidak sepenuhnya meyakini harga saham PGN terus merosot.
"Soalnya (rencana) aksi korporasi tersebut di satu sisi tidak akan mengurangi jumlah dan nilai saham yang dimiliki masing-masing pemegang saham," tegas Dahlan.
Sebelumnya Kementerian BUMN sudah menunjuk PT Bahana Securities dan PT Danareksa Sekuritas untuk membuat kajian atas rencana penyatuan bisnis gas PT Pertamina dan PT Perusahaan Gas Negara.
Untuk melaksanakan akuisisi tersebut terdapat dua ide, yaitu (dua tahap) pertama PGN membeli PT Pertagas (anak usaha Pertamina di bidang gas), kemudian tahap kedua, PGN dibeli PT Pertamina.
Sementara jika menempuh opsi kedua (satu tahap), maka Pertamina bisa langsung membeli PGN, atau dengan kata lain tidak perlu dua tahap, dan lebih maksimal.
Meski begitu rencana akuisisi tersebut telah mengundang perhatian publik yang mengkhawatirkan terjadinya dampak penurunan terhadap harga saham PGN.
"PGN tetap eksis sebagai perusahaan energi terbesar di Indonesia. Karena PGN punya otonomi khusus karena perjanjiannya ada saham Merah Putih di PGN," ujarnya.
Dahlan menggambarkan, seandainya akuisisi benar terjadi maka tidak akan mengurangi kepemilikan dari sisi jumlah dan harga.
"Kalaupun itu terjadi (akuisisi) paling prosentasenya saja yang turun. Pilih mana prosentase turun tapi nilainya kecil atau nilainya naik tapi prosentasi kepemilikannya turun" ujar Dahlan.
Untuk itu, pria kelahiran Magetan, 17 Agustus 1951 ini pun meyakini bahwa akuisisi tersebut tidak akan berpengaruh negatif terhadap saham PGN.
"Jadi...lihat saja perkembangannya," ujarnya.
Menurut data Bursa Efek Indonesia, harga saham PGN pada perdagangan sesi siang ditutup pada level Rp4.290 per lembar, naik 30 poin dibanding penutupan Kamis (16/1) sebesar Rp4.260 per lembar.(rr)

Kerjasama BPK, Transaksi Perusahaan BUMN Harus Terbuka

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan melakukan penandatanganan Kesepakatan Bersama tentang  Pengembangan dan Pengelolaan Sistem Informasi untuk Akses Data dalam rangka Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan dengan Ketua BPK RI Hadi Poernomo.
Nota Kesepahaman ini merupakan penerapan UU No 15 Tahun 2004 terkait kewenangan BPK dalam memeriksa Keuangan Negara.
“Saya ingin ini tidak hanya di Kementerian BUMN akan tetapi di BUMN,” kata Dahlan, di kantor Kementerian BUMN, Jumat (17/1/2014).
Menurut dia, ini merupakan terobosan, sehingga tidak ada yang perlu disembunyikan dan bahkan akan memperlancar pemeriksaan dan akan meng-guide keterbukaan.
“Pembayaran dari kontraktor ke sub kontraktor, atau vendor harus menggunakan transaksi bank (Non Cash Transaction/NCT). Saya sudah tegaskan didalam Rapat Pimpinan agar ketentuan ini dimasukkan ke  naskah RUPS,"jelas Dahlan
Menurut Ketua BPK RI Hadi Poernomo hal ini tidak menambah beban kerja yang diperiksa. “ini semacam CCTV Pengelola dan Penanggung Jawab Keuangan Negara. Semua terkoneksi dengan sistem BPK," ungkap Hadi.

Wednesday, December 25, 2013

Hatta Rajasa Resmikan Terminal Pengepakan Semen Bosowa Barru


Hatta Rajasa Resmikan Terminal Pengepakan Semen Bosowa BarruLaporan Wartawan Tribun Timur, Hajrah
TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR - Menteri Koordinator Perekonomian RI, Hatta Rajasa dijadwalkan hadir untuk meresmikan proyek pengepakan semen Bosowa dan pelabuhan di Kabupaten Barru, Kamis (26/12/2013) hari ini.
Selain Hatta, CEO Bosowa Corporindo Erwin Aksa juga hadir mendampingi.
Proyek ini dilengkapi berbagai fasilitas seperti Jetty atau dermaga untuk pengiriman klinker, dermaga tongkang, dermaga kapal kecil, gudang, serta silo atau tempat penampungan untuk penyimpanan semen.
Fasilitas ini berada 107 km sebelah barat Kota Makassar atau 5 km dari Barru, sedangkan dari pabrik Semen Bosowa Maros sekitar 60 km.
Fasilitas ini akan menjadi hub untuk menghindari antrean pembebanan kapal untuk semen dan klinker untuk ekspor.

Monday, December 23, 2013

Tiga BUMN Akuisisi Saham Inhealth Rp1,75 Triliun

Jakarta (Antara) - Tiga BUMN, PT Bank Mandiri, PT Kimia Farma, dan PT Askes mengambilalih saham PT Asuransi Jiwa Inhealth (InHealth), anak usaha Askes dengan nilai akuisisi sekitar Rp1,75 triliun.
Penandatanganan perjanjian jual beli saham InHealt, dilakukan di Gedung Bank Mandiri, Jakarta, Senin, yang disaksikan Menteri BUMN Dahlan Iskan.
Dengan akuisisi ini, Bank Mandiri nantinya akan memiliki 80 persen saham InHealth, sementara Kimia Farma dan Jasindo masing-masing memiliki 10 persen kepemilikan saham.
Akuisisi InHealth ini adalah inisiatif Bank Mandiri untuk menyukseskan implementasi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sekaligus memanfaatkan peluang di sektor asuransi kesehatan.
InHealth merupakan perusahaan jasa layanan asuransi kesehatan dengan jaringan terluas di Indonesia yang saat ini melayani 1,1 juta pemegang polis.
Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin mengatakan secara regulasi mulai 1 Januari 2014, Askes akan berubah menjadi BPJS Kesehatan dimana perubahan itu membuat Askes tidak bisa lagi memiliki perusahaan asuransi.
"Di saat yang sama, kami meyakini industri asuransi kesehatan, merupakan mesin pertumbuhan yang strategis karena tumbuh rata-rata 20 persen per tahun," ujar Budi.
Proses akuisisi akan dilakukan dalam dua tahap, pertama Bank Mandiri akan memiliki 60 persen saham InHealth. Kimia Farma dan Jasindo masing-masing memiliki 10 persen saham, sementara PT Askes akan memiliki 20 persen saham di InHealth.
Tahap kedua dilakukan setelah masa transisi peralihan Askes menjadi BPJS Kesehatan selesai, untuk memastikan bahwa segala sesuatu dalam periode transisi, khususnya setelah penerapan BPJS akan berlangsung lancar.
Sebelum akhir periode transisi tersebut maka sisa 20 persen saham Askes di InHealth yang sudah diperjanjikan, akan dijual kepada Bank Mandiri.
Dalam proses akuisisi ini, Bank Mandiri bersama Kimia Farma dan Jasindo berkomitmen untuk memperkuat sinergi untuk menjadikan InHealth sebagai market leader di sektor asuransi kesehatan, khususnya dalam hal akuisisi nasabah dan layanan bagi pemegang polis.
Sementara itu, Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan pengambilalihan InHealth oleh ketiga BUMN tersebut merupakan langkah tepat.
"Sinergi ini dapat menyelamatkan InHealth tidak dilepas kepada swasta, tidak dilepas kepada asing, dan tidak lepas kepada swasta yang dikenal suka melepas kepada asing. Intinya, sinergi ini demi kemajuan BUMN itu sendiri," tegasnya.
Pada periode September 2013, InHealth memiliki lebih dari 1 juta pemegang polis dengan premi bruto lebih dari Rp1,1 trilliun.
Dengan melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang rata-rata mencapai 6 persen per tahun dan Healthcare expenditure yang tumbuh rata-rata 20 persen per tahun dalam satu dekade terakhir, Bank Mandiri optimistis dapat menjadikan InHealth sebagai pemimpin pasar asuransi kesehatan di Indonesia.(tp)

Sunday, December 22, 2013

Presiden: Kebutuhan Baja Nasional Perlu Segera Dipenuhi

Presiden: Kebutuhan Baja Nasional Perlu Segera Dipenuhi Cilegon (Antara) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan kebutuhan baja nasional harus segera dipenuhi guna mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
"Peresmian pabrik baja hari ini wujud nyata untuk meningkatkan kapasitas industri baja nasional yang dipasok Krakatau Steel dan lainnya," kata Presiden saat acara peresmian pabrik baja terpadu Krakatau Posco di Cilegon, Banten, Senin.
Presiden mengatakan kerja sama yang terjalin erat antara Krakatau Steel dengan Posco merupakan investasi jangka panjang menuju Indonesia sebagai negara industri yang tangguh.
"Pasokan baja saat ini masih dirasakan kurang seiring dengan kemajuan industri nasional. Pemerintah terus mendorong Krakatau Steel sebagai penghasil produk baja lembaran," ujarnya.
Ia menambahkan, "PT Krakatau Posco insya Allah bisa meningkatkan kapasitas produksi baja. Kebutuhan baja nasional bisa segera dipenuhi dengan kemampuan produksi dalam negeri. Ini wujud nyata pengolaan produk nonmigas berbasis teknologi tinggi."

"Percepatan pembangunan ini untuk beri kontribusi pada sektor nonmigas secara berkelanjutan dan berketahanan. Kita juga ada industri pengolahan tambang, pengolahan produk pertanian hinggga teknologi canggih," tutur Kepala Negara.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono, Senin pagi meresmikan Pabrik Baja Krakatau Posco.
Presiden didampingi oleh Menteri Perindustrian MS Hidayat, Wagub Banten Rano Karno, Menteri BUMN Dahlan Iskan dan sejumlah pejabat lainnya. Juga hadir Wakil Menteri Perdagangan Korea Selatan dan Duta Besar Korea Selatan untuk RI.
PT Krakatau Posco adalah perusahaan gabungan kerja sama antara Posco dengan investasi saham 70 persen dan PT Krakatau Steel sebesar 30 persen yang merupakan proyek investasi terbesar di Indonesia dengan total investasi 6 miliar dolar AS.
Proyek ini terdiri dari enam pabrik utama yaitu "Sinter Plant", "Coke Plant", "Blast Furnance", "Steel Making Plant", "Continuous Casting Plant" dan "Plate Mill" yang terbagi dalam dua tahap.
Tahap Pertama akan memiliki kemampuan kapasitas produksi sebesar 3 juta ton produksi per tahun, dan saat investasi kedua selesai akan mampu memproduksi 6 juta baja per tahun.
Berdasarkan data dari LPEM Universitas Indonesia pada 2010, dampak ekonomi investasi tahap I untuk area Cilegon, investasi ini akan memberikan nilai "output" sebesar 4,7 miliar dolar AS per tahun dan menyerap 63.000 tenaga kerja.
Untuk tingkat nasional akan memberikan nilai "output" sebesar 7 miliar dolar AS dengan penyerapan tenaga kerja 149.000 orang.(rr)

Krakatau Steel Siap Dukung Penuh Krakatau Posco


"Krakatau Steel bersama 18 anak usaha dan anak usaha di bawah dana pensiun siap mendukung kebutuhan pabrik patungan Krakatau Posco selama beroperasi," kata Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk. Irvan K. Hakim di Jakarta, Minggu.
Irvan mengatakan bahwa anak usaha seperti PT Krakatau Bandar Samudera, PT Krakatau Tirta Industri, PT Krakatau Daya Listrik, PT Krakatau Industrial Estate Cilegon telah meningkatkan utilitasnya untuk memenuhi kebutuhan Krakatau Posco.
Irvan mengatakan bahwa Krakatau-Posco agar industrinya dapat terus berlanjut (sustain) harus menggandeng Krakatau Steel bersama-sama anak usaha.
"Saya kira hampir semua kebutuhan. Krakatau Posco untuk keberlangsungan sebagai industri baja yang berkelanjutan (sustain) sudah dapat dipenuhi dari Krakatau Steel," ujar Irvan.
Seperti PT Krakatau Tirta Industri sebagai perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan air bersih untuk memenuhi kebutuhan air bersih di KIEC saat ini memiliki kapasitas 2.000 liter per detik.
Penambahan kapasitas tersebut setelah Krakatau Tirta Industri menyelesaikan perluasan waduk miliknya pada tahun 2013 untuk memenuhi kebutuhan air bersih Krakatau Posco.
Kemudian PT Krakatau Bandar Samudra kini telah memiliki tambahan tiga dermaga baru, yakni Dermaga 3, Dermaga 5, dan Dermaga 6 dengan panjang 1 kilometer sehingga mampu disandari kapal berbobot 200.000 DWT.
Krakatau Daya Listrik saat ini memiliki kapasitas 200 MW sanggup untuk memenuhi tambahan pasokan listrik Krakatau Posco, jelas Irvan.
"Tahun 2013 adalah tahun yang penuh tantangan bagi kami untuk menyelesaikan proyek-proyek di anak perusahaan dan proyek kemitraan strategis adalah untuk memenuhi kebutuhan Krakatau Posco," ujar Irvan.
Pabrik baru tersebut akan memproduksi bahan baku baja berupa pelat dan slab untuk memenuhi kebutuhan berbagai sektor industri, di antaranya industri berat, pipa, ship building, dan marine construction.
Pabrik baja PT Krakatau Posco tahap pertama akan memiliki kapasitas produksi sebesar tiga juta ton per tahun, serta akan ditingkatkan lagi menjadi enam juta ton per tahun setelah selesainya pembangunan pabrik tahap kedua.
Kapasitas tersebut dua kali dari total kapasitas produksi Krakatau Steel saat ini, kata Irvan.
"Kami berharap pengoperasian pabrik baru ini mampu mengantisipasi lonjakan kebutuhan baja, khususnya di pasar domestik, yang diperkirakan tumbuh 8--9 persen per tahun dari tahun lalu yang mencapai 10,4 juta ton," ujar Irvan.
Irvan mengatakan bahwa pengoperasian Krakatau Posco dapat menekan biaya inventory dan modal kerja KS karena dapat mengurangi kebutuhan slab impor sebagai bahan baku Hot Rolled Coil (HRC).
"Kita berharap Krakatau Posco dapat memproduksi slab baja 2,4 sampai 2,6 juta ton selama awal pengoperasian," kata Irvan.
HRC merupakan produk baja yang saat ini menjadi sumber pendapatan utama perseroan.
Berdasarkan data kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM-FEUI), melalui pembangunan dan operasional pabrik KS-Posco, dalam kurun waktu 2010--2036, jumlah output ekonomi dan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masing-masing dapat mencapai Rp946 triliun dan Rp314 triliun.
Irvan juga menyebutkan bahwa total biaya investasi pembangunan pabrik baja PT Krakatau Posco mencapai 2,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp23,94 triliun dengan komposisi kepemilikan saham 30 persen dimiliki KS dan Posco menguasai 70 persen saham.
Berdasarkan kesepakatan bersama, KS memiliki opsi untuk meningkatkan porsi kepemilikan di PT KS-Posco mencapai 45 persen.
Krakatau Posco menempati areal seluas 388 hektare milik Krakatau Steel dari total 2300 hektare lahan yang dimiliki perusahaan di kota Cilegon, Banten.
Mengenai prospek industri baja ke depannya, Irvan mengatakan bahwa sangat bergantung pada harga baja dunia di Cina dan Eropa. Namun, kalau melihat ekonomi membaik pada tahun 2014, peluang akan cerah.
Di dalam negeri, menurut dia, sangat bergantung pada daya beli yang dipengaruhi pada kondisi nilai tukar rupiah.
Irvan mengatakan bahwa bagi perusahaan baja upaya yang dilakukan dengan mengurangi biaya, yakni dari bahan baku dan penggunaan energi.(fr)